Minggu, 10 Mei 2009

ELEGI MENGGAPA "PERBINCANGAN" melalui BICARA

Saat kita ingin menyampaikan suatu hal, maka saat itu pula kita akan berupaya untuk mengeluarkan segala apa yang ada dan kita miliki.

Sesungguhnya dalam setiap aksi pasti ada reaksi. Dan jika kita memulai, maka aka nada reksi yang diberikan oleh setiap hal yang ada di sekitar kita; manusia lain, hewan, tumbuhan, dan angin dan air….

Banyak hal dan cara yang dapat dilakukan setiap makhluk-Nya dalam berkomunikasi….Komunikasi dengan sesame komunitasnya, komunikasi dengan makhluk Allah yang lain dan yang paling penting adaah bagaimana kita menjagakomunikasi dengan Allah Rabb semesta alam yang menguasai dunia seisinya dan hari pembalasan.

Sesungguhnya perbincangan adalah komunikasi yang terjadi secara dua arah dan berulang-ulang. Perbincangan dengan kedua pihak aktif, perbincangan dengn satu pihak aktif dan pihak lain sebagai pendengar ataupun perbincanan dengan kedua pihak menjadi pendengar dari piahk ketiga yang berbicara.

Perbincangan dengan bahasa lisan, bahasa isyaat ataupun bahasa tubuh??? Perbincangan tidak akan pernah bisa terlepas dari bicara. Karena sesungguhnya, dengan kita bicara, maka akan terjadi perbincangan.

Lalu perbincangan seperti apakah yang menjadi perbincangan yang memiliki kedudukan paling tinggi??? Perbincangan yang memiliki makna yang paling dalam???? Dan perbincangan yang selalu dirindu dan dinanti??? Sebenar-benar perbincangan adalah saat kita menyampaiakannya kepada orang yang tepa, pada saat yang tepat dan dengan cara yang tepat, dan perbincangan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah perbincangan seorang hamba dengan Allah Rabb yang menguasai diri ini. Karena hanya Allahlah yang paling tepat sebagai tempat untuk menyampaikan segala keluh kesah hamba-hamba-Nya, disetiap saat dan kesempatan dimana kita selalu mengingatNya (Dzikrullah), dan dengan merendahkan diri ini dengan penuh pengakua bahwa diri ini tidak memiliki daya apa-apa, diri ini sangatlah lemah tanpa kehendak dari Allah swt. Wallahu’alam bishowab….

Sesungguhnya perbincangan dengan Allahlah yang paling jujur, karena dalam perbincangan ini tidak akan ada yang bisa ditutup-tutupi, tidak akan pernah ada yang dimanipulasi, bahkan seorang manusia yang tidak mengakui agama sekalipun, disaat ia terjepit dia akan melakukan perbincangan dengan Tuhannya, setidaknya untuk meminta pertolongan.

Sesungguhnya tidak memperbincangkan hal-hal yang tidak perlu dan menggunjingkan orang lain, hal ini akan lebih selamat bagi kita. Maka, janganlah berlebih-lebihan saat berbincang-bincang dengan orang lain. Bahkan, jika orang itu tidak satu pemikiran dengan kita. Karena pepatah jawa mengatakan “ajining diri gumanting ana ing lathi” juga “aja waton ngomong, nanging ngomongo naggao waton”.

Sesungguhnya hakikat perbincangan adalah di saat kita bisa merasakan nikmatnya saat kita bisa menyempaikan kepada yang kita tuju, dan kitapun mendapatkan tanggapan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sehingga, dalam perbicanganpun, menjadi syarat perlu bagi kita rasa saling memahami; memahami kondisi, latar belakang, dan keinginan dari rekan perbincangan kita.

Kita tidak ada yang sempurna, namun selalu berusaha untuk menyempurnakan setiap lagkah gerak kita, munuju arah yang lebih baik. Karena sesunguhnya du dunia ini tidak ada yang bersifat absolute selain Allah swt, manusia hanya bisa berusaha untuk menggapai titik yang terdekat….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar