Sabtu, 23 Januari 2010

Uktukmu Ukhti Fillah 2 >>>>

Dikutip dari seorang Saudaraku yang cukup geram dengan kondisi akhwat saat ini...
dan sayapun menuliskannya dini hari...karena saya berfikir bahwasannya ini harus segera disampaikan...saat ini...dan tidak untuk ditunda lagi...

Oleh (titis wira iriyanti_nisrina.com)
Tetangga kamar di kontrakan...
ana uki bukhi fillah...


ASalam’alaykum..
Teruntuk Saudariku para Facebookers…

Dear my Sisters Muslimah Sholehah…

Beberapa hari ini saya sengaja log-in di FB malam (lewat HP tua saya, jadi tidak akan terlihat OL. Hehe…), hanya ingin sekedar melihat-lihat.

Ternyata saya mendapati beberapa akhwat/ muslimah posting dan bahkan ada yang saling comment dengan lawan jenis, di atas pukul 20.00 WIB (Weeew….).

Untuk akhwat yang di Solo – khususnya kampus - sudah tidak asing lagi dengan jam malam pukul 20.00, dimana, alangkah AHSANnya alias alangkah BAIKnya ketika kita para muslimah tidak keluar kos dan tidak berkomunikasi dengan ikhwan/ laki-laki di atas jam itu (kecuali syar’i dan darurot mbakyu…).

Ketika kita bisa mengaplikasikannya di dunia nyata

- misalnya: sampe dibela-belain masak mi instant aja dari pada keluar cari makan, atau dibela-belain nggak bales sms ikhwan padahal lagi seru-serunya debat…(Lhoo…?!!! Nggak keren. Debat kok lewat sms) Misalnya aja lho ya…. -

kenapa tidak bisa juga kita aplikasikan di dunia maya (dumay)…?


***


Mungkin ada yang ber-apologi, “saya kan tidak di lingkungan kampus….”
Oke, sekarang kita KELUAR dari konteks ke-KAMPUSan dan aturan JAM MALAM.

Tidak perlu dua hal itu (kampus dan jam malam) untuk menahan kita gentayangan di dumay malam-malam.
Cukup ini saja,
“Bukankah seorang muslimah mempunyai izzah (harga diri)? “

Izzah yang harus dijaga untuk menjaga kehormatan agamanya.
Izzah yang harus dijaga dalam rangka menghindari fitnah.

Kalo kita gentayangan di dumay malam-malam, apakah tidak sama seperti kita gentayangan di dunyat malam-malam juga? (halah…opo kuwi…? Maksud saya dunia nyata)

Kalo kita ngobrol sama lawan jenis di dumay malam2, sama aja dong kita keluar malam, janjian sama dia, ngobrol sambil nongkrong di angkringan (kenapa sih harus angkringan…?!! Suka-suka saya aja ;p)

Kalo kita posting sesuatu di dumay malam2, sama aja dong kita teriak-teriak (nggak usah teriak-teriak deh, tapi ngomong sendiri) di pinggir jalan malam2 nunggu orang lewat berkomentar… (ya ndak?)

Nah….sama aja kan….?!!!

sebenarnya tidak apa2 dilakukan...ketika memang ada uzur syar'i...
cumaaan sejauh ini, mbok saya lihat dari sisi mana juga, tidak ada uzur syar'inya sama sekali.

apakah jika kita tidak comment atau update status saat itu juga akan ada sebuah kemadharatan? apakah akan ada yang cidera karena itu? apakah akan ada yang meninggal? apakah akan menyebabkan perang dunia?

sepertinya.... TIDAK.
kalo bisa ditunda besok paginya, kenapa tidak? ya ndak... ^^

Oleh karenanya muslimah sholehah…
Kalo kita ingin orang lain menghargai kita, maka hargai lah diri kita.
Bagaimana mas X atau akh Z nggak telp kita malam2, lha wong mereka sering mendapati kita sering gentayangan di Dumay malam hari… Ya… wajar…

Orang akan menghargai kita, sebagaimana kita mengharagai diri kita sendiri.
Kalo kita tersinggung dengan sikap orang lain yang kita anggap tidak menghargai dan menghormati kita (telp dan sms nggak penting ke kita malam2, misalnya), balik tanya dulu deh..ke diri kita..sudah sejauh mana kita menghargai diri sendiri…


Saudariku…

Kesimpulannya adalah:
mari saling mengingatkan dan jangan tidur ba’da subuh (lho…?!)




Tadzkiroh ini saya persembahkan untuk diri saya sendiri dan saudari-saudari saya yang saya sayangi karena Alloh SWT, insya Alloh…



NB2 : copy paste dari note saudari saya insyaalloh sudah mendapat ijin beliau..semoga bermanfaat dan berusaha untuk saling mengingatkan..KARENA AKHWAT, KARENA WANITA adalah spesial..so...

Untukmu Ukhti Fillah>>>>

Tulisan ini adalah pengingat untuk kita semua...
mencoba untuk menyampaikan kepada Saudariku yang lain...

message from SHSN (Satu Hari Satu Nasihat)
Gemma Ayu Dewanti November 21 at 6:16am Reply

dari seorang akhi ..

Buat Saudariku

yang dirahmati oleh Allah


Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ukhti yang baik,

Kecantikan adalah anugerah. Senyum manis adalah berkah. Sungguh karunia dari Allah bahwa wanita diciptakan memiliki kecantikan yang sangat mempesona. Dan kecantikan itulah yang akan menjadi jalannya menuju surga, jika ia mampu membarenginya dengan akhlaq yang mulia.

Rasulullah menjelaskan bahwa di antara fitrah lelaki adalah menyukai kecantikan wanita. Bahkan ‘Aisyah yang merupakan salah seorang shahabiyah paling pandai di masa itu, terkenal pula karena kecantikannya. Rasulullah menjulukinya Humaira`: Gadis yang pipinya merona merah.

Dan karena kecantikannya itu, wanita dapat mengumpulkan pahala yang sebesar-besarnya dari Allah. Caranya? Bersyukurlah atas nikmat yang Allah berikan itu dan pandailah menjaga diri. Rasulullah mengajarkan cara bersyukur itu dengan membiasakan diri membaca do’a tatkala bercermin yang maknanya,

“Ya Allah… Sebagaimana Engkau telah mengelokkan parasku, elokkan pulalah akhlaqku…”

Ukhti yang dijaga oleh Allah…

Tak ada yang salah dengan kecantikan, karena, seperti kata pepatah, kecantikan bukanlah suatu dosa. Tapi sungguh itu tak berarti bahwa setiap wajah yang cantik berhak dijadikan barang tontonan. Kami kaum pria sangat bersedih karena sekarang ini banyak di antara kawan-kawan Ukhti yang gemar memajang wajah cantik mereka di profil Facebook. Juga di blog-blog yang katanya pribadi, tapi nyatanya dapat diakses oleh siapapun.

Ini adalah satu hal yang sangat marak belakangan ini. Satu hal yang dianggap lumrah, sehingga para gadis berjilbab itu memasang pose-pose mereka di foto-foto yang kian hari kian bertambah jumlahnya. Seakan nama saja sudah tidak cukup.

Mohon Ukhti tanyakan pada mereka, apa sesungguhnya tujuan mereka memajang foto tersebut di tempat-tempat publik? Yakni foto dengan gaya yang menggoda serta senyum yang memikat!

Jika tujuan berjilbab itu adalah agar menutupi aurat dan terhindar dari pandangan-pandangan jahat, apakah itu pula yang menjadi tujuan mereka saat bergaya di depan kamera dan memamerkannya pada setiap orang?

Jika berjilbab itu tujuannya adalah mencari ridho Allah, apakah tujuan memperlihatkan foto-foto itupun adalah ridho Allah? Apakah betul Allah akan ridho pada wanita yang melakukan hal itu?

Ukhti yang baik,

Kami kaum pria sangat bersedih menghadapi fenomena ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara gadis-gadis yang fotonya tersebar di seantero jagad ini adalah istri atau calon istri kami. Apakah mereka tidak tahu bahwa foto mereka tersimpan dalam komputer puluhan, ratusan atau bahkan mungkin jutaan pria lain yang tidak berhak? Yang mungkin saja dijadikan sarana oleh para pendosa sebagai ajang bermaksiat? Apakah mereka mengijinkan pria-pria selain suami mereka itu menyimpan foto-foto tersebut?

Ukhti,

Kami kaum pria sangat bersedih mendapati semua ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara foto yang tersebar luas itu adalah ibu atau calon ibu kami, yang seharusnya menunjukkan caranya menjaga diri, bukan dengan menunjukkan hal-hal yang seharusnya disembunyikan…

Kami kaum pria sangat bersedih menyaksikan semua ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara foto yang tersebar luas itu adalah guru atau calon guru kami, yang seharusnya mendidik dan mengajarkan Al Qur’an serta akhlaqul karimah kepada kami.

Apakah semua ini akan dibiarkan begitu saja tanpa ada penyelesaian? Tanpa ada seorangpun yang berani menegur serta mengingatkannya, memberitahukan bahwa itu adalah sebuah kesalahan? Atau harus menunggu tangan-tangan jahat memanfaatkannya untuk merusak harga diri dan menyebarkan aib yang seharusnya ditutup rapat-rapat?

Ukhti yang baik…

Jazakillah khairan… Terima kasih banyak karena Ukhti tetap pandai menjaga diri dari sekecil apapun celah-celah kealpaan. Tapi tolong sampaikan pula pada kawan-kawan Ukhti, agar merekapun mengikuti jejak ukhti dengan menghapus foto-foto mereka dari Facebook dan blog-blog mereka. Sampaikanlah pada mereka agar menahan diri dari keinginan menunjukkan eksistensi diri di hadapan pria yang tidak berhak.

Jika mereka ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka cantik, cukuplah tunjukkan pada suami mereka saja. Atau orang tua dan anak-anak mereka saja. Karena Allah Maha Tahu segala sesuatu. Jika mereka membutuhkan sanjungan atas kecantikan yang telah dianugerahkan Allah pada mereka, biarlah Allah saja yang menyanjungnya, dengan balasan berlipat-lipat ganda di hari akhirat kelak.

Dan jika mereka ingin kecantikan mereka dikagumi, biarkanlah suami mereka saja yang mengagumi, lalu memberikannya sejuta hadiah cinta yang tidak akan pernah ada bandingnya…

Sementara kami, kaum pria yang tidak atau belum berhak atas itu semua, biarlah asyik masyuk tenggelam dalam do’a, agar dianugerahi istri yang cantik dan shalehah, ibu yang baik dan bersahaja, guru yang taat dan menjaga martabatnya…

Agar Allah mengumpulkan kita kelak di surgaNya. Meraih ridho dan ampunanNya serta dihindarkan dari adzab neraka…

Atas perhatian dari Ukhti, saya ucapkan jazakillah khairal jaza…

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

*mari bersama2 saling mengingatkan...

I.D.E. dan H.A.R.A.P.A.N

Waktu telah menunjukkan pukul 00.50 saatku mulai menuliskannya.

Mencoba membuat peta untuk perjalanan kehidupanku di tahun ini.
di satu sisi bentuk baktiku untuk kedua orangtuaku telah memintaku menjadi seorang anak yang mampu memberikan seperti apa yang keduanya harapkan...
segera menyelesaikan studi... segera bisa menemani dan merawat mereka...

"Ayah dan Ibu...
Ini impianku, ingin menjadi anak yang sholih...
Menolong Ayah...Membantu Ibu...
Terus berbakti di negri abadi..."
(Wahai Ayah dan Ibu-Umam)

baktiku untukmu wahai ayah dan ibuku...
sayangku untukmu, ayah dan ibuku...
maafkan putrimu yang terlalu banyak merepotkanmu...
maafkan putrimu yang belum mampu memberikan kebahagiaan untukmu...
maafkan putrimu yang belum bisa membalas semua pengorbananmu...

semoga tulisan ini akan dapat menginagtakan akan tugas2 yang kau berikan...
ku akan upayakan tuk tetap membuatmu tersenyum...
ku persembahkan semua ini untukmu...
sebagai wujud birul walidainku padamu...
Ya Allah Ridhoi permohonan hamba...


sisi lain dalam kehidupanku juga menghendaki tuk mampu berikan yang terbaik lagi...
akupun menyadari bahwasannya ku belum bisa meninggalkanmu...
ku juga merasakan sepi dan sunyinya saat ku harus sendiri...
tanpa kalian yang akan senantiasa mengingatkanku...
tanpa adanya kalian yang akan saling mengokohkan...
dalam satu barisan...menuju cita-cita bersama...

Ya Allah...bimbinglah hamba yang lemah ini...
Hamba menyadari, Engkau akan lebih menyukai hambaMu yang kuat dan tidak mudah mengeluh bahkan menunjukkan kelemahan dirinya...
Namun, hamba benar2 sangat kecil dihadapanmu saat dihadapkan dengan permasalahan yang satu ini ya Allah...

Semoga setiap langkah ini, adalah dengan petunjukMu...
Semoga setiap perkataan ini, adalah untuk mengingatMu...
Smeoga setiap yang ku pilih, adalah pilihan yang terbaik menurutMu...
Amin...Amin...Ya Rabbal'alamin....

Ku Mencari2...

Bismillahirrahmanirrahim...

Awalnya, hal ini berawal dari sebuah perjalanan persahabatan...
di saat perjalanan hidup seorang sahabat, pastinya akan mengalami pasang surut.
kadang kala, dia akan mampu menjadi orang yang sangat mengerti diri ini,
namun kadang dia juga sebagai manusia yang sangat jauh dari sempurna.
dia punya rasa, dia punya keikhlasan, dia juga punya kebosanan...
yach, bisa jadi seorang sahabat akan menjadi tempat untuk meluapkan kekesalan.

bukan untuk mengungkit2 kesalahan atau kekesalan orang lain,
namun andaikan saja dia tahu bagaimana perasaan seorang sahabat yang sekian lama telah berusaha untuk menjadi yang terbaik, meskipun dia belum mampu melihat upaya tersebut...

Wahai Saudaraku...
Wahai Sahabatku...
masih sangat melekat di dalam ingatan ini, saat kumerasakan kegundahan,
dan...kaulah yang dikirim Allah untuk mendengar suara hati ini...
kaulah yang dikirim oleh Sang Penguasa Hati untuk menghapus air mata ini...
Kawan...
Setelah sekian lama mungkin ku belumbisa menjadi seorang Sahabat yang dulu lagi...
Karena diriku sendiri juga sedang menata diri...
jika kau menanyakan tentang keikhlasan...
maka, saat ini itulah yang aku cari...

Entah dengan apa, ku akan bisa menjelaskannya untukmu...
seakan saat ku bertemu denganmu, bibir ii terkunci tuk memulai perbincangan terlebih dahulu...
perlu berulang kali, kini ku harus pikirkan saat ku akan menyampaikan sesuatu...
karena ku sadar bibir ini, sangat dekat dengan kebohongan dan kemunafikan...
hati ini selalu dipenuhi dengan kebimbangan...
seperti halnya yang telah kau sampaikan untukku.

Sahabat...
Aku memang bukanlah teman yang baik untukmu mungkin,
Aku juga bukan orang menyenangkan mungkin...
Aku sangat 'njelehi'... dan apapun itu...
Hanya saja, mungkin ku butuh sedikit waktu...

terima kasih untuk segala yang telah kau perjuangkan...
semoga sedikit tulisan ini, bisa menjadi wakil dari jawaban yang kau harapkan...
'1 senyum' yang telah kukirimkan pada hari jumat...
dan 'sebuah catatan' yang mengikutinya...

'Afwan katsir...asif jiddan...